Munafik Sebagai Teori Politik

ridho, 30 Jan 2019,

PALEMBANG - Munafik bukan milik para politisi liberal, bukan milik politisi agamais, bukan juga milik para politisi nasionalis, ataukah munafik identik dengan para politisi komunis. Munafik bukan persoalan ideologi, melainkan persoalan individu yang menjadikan kemunafikan sebagai instrumen keuntungan politis. 

Determinasi kemunafikan dalam berpolitik beragam, hampir semua pelaku politik menjadikan kemunafikan sebagai kewajaran meraih cita-cita, memperjuangkan kursi kekuasaan. Terserah publik untuk menjustifikasi bahwa kemunafikan merupakan cara-cara haram yang tidak dibenarkan dalam mewujudkan orientasi politik. 

Banyak politisi menggunakan senjata munafik, berpura-pura tulus seratus persen padahal cuma taktik bulus politik, mengklaim diri sebagai individu politik yang telah banyak mempengaruhi keputusan politik, menganggap sudah banyak berperan penting dalam segala aspek kehidupan rakyat. Begitu ampuh kemunafikan digunakan para politisi memanjangkan umur mereka di panggung politik. Munafik dalam berpolitik bukan lagi simbolik, bukan lagi urusan tetek bengek kepentingan visioner. 

Munafik dalam berpolitik menjadi tongkat sakral para politisi menelusuri gelapnya jalan menuju kekuasaan. Dalam dunia politik, tidak boleh alergi terhadap kemunafikan, menjadi politisi merupakan pilihan dan tidak boleh tanggung-tanggung melakoni hingar bingar politik. Istilah-istilah kemunafikan tidak tunggal, banyak dimensi kemunafikan yang dimainkan oleh para politisi, bersembunyi dibalik idiom kerakyatan. Semua para politisi mesti menciptakan bahasa-bahasa munafik yang syarat nilai dan tidak miskin bahasa kemunafikan, sehingga kemunafikan akan tampil elegan di hadapan publik.

Munafik dalam berpolitik boleh-boleh saja. Kemunafikan yang dapat memahami moralitas politik serta mempunyai ketajaman untuk membedakan benar dan salah dalam berpolitik. Tentu benar dan salah dalam berpolitik melahirkan cakrawala politik, benar dan salah akan terlihat pada cara setiap politisi meng-input kehendak logika politik dan bagaimana para politisi meng-output logika politik tersebut. Benar dan salah yang diproduksi para politisi saling memberi umpan balik, saling menyapa dalam sistem politik.

Munafik dalam berpolitik, menopang siasat yang diperlukan guna melancarkan gagasan-gagasan politik. Siasat dalam berpolitik merupakan amunisi di medan pertempuran antar politisi. Hanya politisi yang lemah siasat akan terlempar dari panggung politik. Politisi mesti mempunyai siasat yang sadar ruang sehingga tahu bahwa siasat yang digunakan bukan kemunafikan belaka.

David Runciman, dosen senior teori politik di Universitas Of Cambridge mengungkapkan bahwa sebaiknya menerima kemunafikan sebagai fakta-fakta politik. Namun bukan berarti menyerahkan totalitas keberlangsungan politik kepada politisi-politisi yang minim gagasan, politisi yang sempit perspektif, politisi yang tidak memahami esensi kemunafikan dalam berpolitik.

Pemilu 2019 tengah berlangsung, masa kampanye bergulir. Para pemilik suara (voter) sudahkah mempelajari kriteria munafik seperti apa yang akan dipilih dan memang layak dipilih. Semoga para pemilik suara dapat membedakan kemunafikan. Munafik semata yang hanya mementingkan urusan pribadi, kelompok serta keluarga, dan mana munafik yang memang dibutuhkan demi kesejahteraan politik.


Penulis : Asmaran Dani
Januari 2019

FB
WA Telegram
PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu